Yusni ألهم الصديق

bismillah

26 Maret 2024

author photo

 


 

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!

Shabat Taubi yang dirahmati Allah SWT,


1.         Musuh Diri: Nafs

Musuh bermakna lawan, siteru, sesuatu yang mengancam atau yang merusakkan (wikipedia). Musuh yang dimaksudkan itu adalah apa saja yang menjadikan diri celaka, merugi, binasa, baik itu dari luar maupun dari dalam diri. Bila musuh dari luar diri sendiri sangat mudah diantisipasi, tetapi ancaman musuh dalam diri jauh lebih berbahaya karena tidak diketahui dan tidak disadari, apa itu? Itulah hawa nafsu.

Kata nafsu (bahasa arab, ﺲﻔﻨﻟا ) atau an-nafsu bermakna makna jiwa, ruh, mata yang jahat, darah, jasad, diri orang, hasrat dan kehendak jiwa, ruh, mata yang jahat, darah, jasad, diri orang atau keinginan, kecenderungan, atau dorongan hati. Nafs adalah dimensi manusia yang berada di antara roh dan jasmani. Di kalangan ahli sufi, nafs diartikan sesuatu yang melahirkan sifat tercela. Al-Ghazali, misalnya menyebut nafs sebagai pusat potensi marah dan syahwat pada manusia dan NAFS sebagai pangkal dari segala sifat tercela. (Jumantoro, 2005:158)

Diri dan nafsu adalah musuh diri kita. Hal ini disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW pada riwayat setelah perang Badar "Kalian telah pulang dari suatu jihad kecil menuju jihad besar.” Sahabat pun bertanya, “Apakah jihad yang lebih besar itu, wahai Rasulullah?” Jawab beliau, “Jihad melawan hawa nafsu.”

Hawa nafsu sebenarnya memiliki kekuatan yang luar biasa dahsyat yang menjerumuskan Diri hingga ke akherat. Karena, nafsu amarah, yang selalu mendorong pada keburukan atau kemaksiatan. Nafsu lawwamah, yang sudah menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya, namun masih banyak terpeleset dalam perbuatan maksiat.  Nafsu mulhamah, mengenali kotoran halus seperti riya, ujub, sombong, dengki, cinta dunia, dan penyakit-penyakit batin, dan Diri Kita terjebak dan tidak bisa lepas dari kotoran-kotoran halus itu." Dan Nafsu  muthmainnah, Pada QS. Al-Fajr (27-30). panggilan Allah SWT, “Hai jiwa muthmainnah (yang tenang). Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jamaah hamba-hamba-Ku. Masuklah ke dalam syurga-Ku.”

Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT pada (QS:Surat Yusuf:53).

۞ وَمَآ أُبَرِّئُ نَفْسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفْسَ لَأَمَّارَةٌۢ بِٱلسُّوٓءِ إِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىٓ ۚ إِنَّ رَبِّى غَفُورٌ رَّحِيمٌ

Wa mā ubarri`u nafsī, innan-nafsa la`ammāratum bis-sū`i illā mā raḥima rabbī, inna rabbī gafụrur raḥīm, yang artinya:

Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.

2. Konklusi dan Solusi  

Said Hawwa (2010:229) ada empat cara dalam mensucikan nafsu itu. Orang- orang yang membicarakan pilar mujahadah pasti akan menyebutkan empat pilar ini yaitu; uzlah (menjauhi kesesatan), diam (tidak bicara jika tidak perlu), melaparkan perut, dan begadang untuk beribadah.

Jadi, siapakah Nafs? Nafs adalah  potensi marah dan syahwat pada manusia dan NAFS sebagai pangkal dari segala sifat tercela yang tidak terkendali selalu akan menyeret manusia kedalam jurang kehancuran, kebinasaan dan kehinaan.

Siapa yang tidak sadar akan hal tersebut, maka pastinya akan membawa manusia kepada balasan berat dari Allah, yaitu neraka.

Wallahua’lambisshawab.

Assalamualaikum Warhamtullahi Wabarakatuh.

 

Referensi:

https://id.wiktionary.org/wiki/musuh

https://tafsirweb.com/3791-surat-yusuf-ayat-53.html

https://www.taubi.my.id/berhala-dalam-diri

https://www.taubi.my.id/berhala-dalam-diri-uji

Jumantoro, Totok dan Samsul Munir Amin. 2005. Kamus Ilmu Tasawuf. Jakarta: Amzah.

Hawwa, Said. 2010. Tarbiyah Ruhiyah: Menempuh Perjalanan Menuju Allah (terj) Tarbiyatuna Ar- Ruhiyah. Jakarta: Aula Pustaka.

This post have 0 comments


EmoticonEmoticon

Next article Next Post
Previous article Previous Post

Advertisement